kaktus jack

"man yuridillahu bihi khairaa, yufaqqihuu fee ad-dieen"


by kaktus jack

air dan pesona yang dikandungnya





Kemarin,dari jendela ruang baca saya,saya perhatikan taman dihalaman depan rumah yg ditumbuhi beberapa jenis bunga dan rerumputan.tiba-tiba pengamatan saya terkonsentrasi pada rerumputan yg kini menghijau.beberapa hari yg lalu rumput-rumput itu nampak kering dan gersang disana-sini.

Hujan baru beberapa kali turun,dan rumput-rumput itu pun kini berubah menjadi hijau dan subur hanya dalam bilangan hari, menyaksikan fenomena alam yg sedemikian mempesona,saya pun teringat pada surat al-anbiyaa' ayat 30 .


وجعلنآ من ﺍلمآءكل شئ حے * أفلا تبصرون


air memang merupakan anugrah ilahi yg luar biasa.bayangkan seperti apa jadinya kehidupan ini tanpa air! Barangkali yg namanya kehidupan itu sendiri tidak akan pernah ada! Explorasi negara-negara maju keruang angkasa seperti mars antara lain mempunyai misi pengamatan keberadaan air, intinya adalah,dimana tedapat air,disitu akan ada terdapat kehidupan!

Betapa Maha benarnya Allah dengan firman nya tadi,sekarang mari kita amati tubuh kita ini.tujuh puluh persen dari bobot manusia adalah air.sementara itu,enam puluh persen tediri dari darah,sedangkan delapan puluh persen dari darah yg mengalir dari tubuh kita adalah air. Ketika seseorang kekurangan air atau dehidrasi,yg tejadi adalah perubahan signifikan pada faal tubuhnya,mulut akan menjadi kering, begitu pula air mata.pada taraf tertentu manusia akan mengalami koma!

Sungguh besar bukti kekuasaan Allah yg telah menciptakan air dari senyawa gas dengan gas (2 h² + O² ?² H²O ) dengan air,tanaman yg menjadi makanan manusia dan tenak menjadi hidup.dengan air, bunga-bunga dan dedaunan tumbuh.diatas air manusia berlayar mengarungi samudra,dengan air pula mesin-mesin turbin digerakkan.

Maka tidaklah mengherankan apabila sejak zaman primitif dahulu sampai sekarang,air senantiasa menjadi sumber paertikaian dan permusuhan. Mengapa? Sebab air senantiasa berperan sebagai sarana teramat penting bagi kehidupan manusia dimana saja diatas bumi ini. Manusia akan dapat bertahan melangsungkan hidupnya tanpa sarana-sarana yg lain. Namun tidak tanpa air! Sungai nil di mesir telah memberikan kehidupan yg penting bagi penduduk negeri itu. Sungai tse punya makna besar bagi kehidupan pertanian masyarakat Cina, dan sungai Porong di Jawa Timur telah banyak berjasa dalam menopang kehidupan petani tambak disepanjang aliran sungai ini. Ini tentu saja merupakan sekelumit contoh tentang arti besar air dan sungai dibelahan bumi.


Tak akan pernah dapat dipungkiri bahwa air memang punya peranan yg teramat penting bagi kehidupan manusia, ternak dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan di negara-negara tertentu, dengan teknologi modern,manusia berusaha mengubah air laut menjadi air tawar untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ayat yg saya kutib di atas bukan merupakan satu-satunya ayat Al-qur'an yg mengisyaratkan arti besar air. Ternyata air memang menjadi sorotan penting Al-qur'an yg dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat yg menjelaskan arti dan peranan subtansi yg luar biasa ini. Sebagian besar dari ayat-ayat itu, seperti yang terdapat didalam Al-Baqarah 22, 74 dan 164, Al-An'aam 99, Al-A'raaf 50 dan 57 serta masih banyak yg lain lagi,yang memberi petunjuk kepada manusia tentang anugrah Allah berupa air,yang dengannya Allah telah memberikan kehidupan bagi alam semesta dan segala isinya..


Wallahu a'lamu..
sepercik kasih ibu

sepercik kasih ibu







Jika hari ini adalah hari untuk ibu,sesungguhnya hari-hari selain hari ini bagi seorang ibu adalah hari untuk anak-anaknya.


Jika hari ini seluruh anak mengungkapkan rasa sayangnya terhadap ibunya,sesungguhnya sudah jauh hari seorang ibu begitu kasih kepada anaknya tanpa harus diproklamirkan sebagai hari kasih sayang untuk anaknya.


Gurat pada raut wajahnya begitu usang tersengat terik surya,namun kasihnya bak sumber mata air yang senantiasa memberika kesegaran pada anak-anaknya sebagai penikmat dari telaga kasihnya.


Dialah sosok manusia yang telah jauh jauh hari,lebih dari 1400 abad yang silam dari bibir manusia agung (Rasulullah) memerintahkan untuk memuliakan nya, ia tersebut dari bibir mulia itu ; " ummuka,ummuka,ummuka "


Kasihi mereka sebelum tuhan lebih kasih lagi kepadanya,kita akan lebih merasa rugi jika ia lebih dicintai tuhannya dengan dipanggilnya kehadratnya.




Kawan lihatlah pemandangan menyentuh ini ;







Seorang anak kecil ini melukis gambar ibunya dilantai dan tidur bersama lukisan tersebut.

Anak asal iran ini sudah kehilangan ibunya sejak berumur 4 tahun sewaktu itu dalam peperangan.lihatlah betapa rindunya ia akan kasih sayang ibunya,sampai-sampai ia melukis sosok ibunya agar sang ibu dapat menemani dalam tidurnya.



Patutlah kita bersyukur,yang sedari kecil sampai sekarang masih dapat merasakan kasih sayang ibu kita,memandang wajahnya,mencium tangannya,mendapatkan doa serta redhanya...


"rabbi igfirlii wa liwaalidayya wa irhamhumaa kamaa rabbayaanii shageeraa"
tentang Haid

tentang Haid









ISLAM MEMANDANG HAID SECARA ILMIAH




Wanita adalah sosok makhluk mulia dalam islam.Tidak seperti yg selalu dikatakan orang barat bahwa muslim memperlakukan wanita dgn cara yg tidak manusiawi,menganggap mereka sebagai pelayan dan budak seks semata,agama islam menempatkan nya pada posisi yg begitu istimewa.Muslim memperlakukan nya dgn akhlak yg bijaksana..

Tak dapat dipungkiri memang orang barat menganggap wanita muslim identik dgn keterbelakangan,kebodohan serta korban gender.Mereka jarang yg mengenyam pendidikan,memiliki kesempatan yg amat kecil untuk berkarir,sehari hari sibuk didapur dan menghabiskan waktu mengasuh anak dan melayani suami. Belum lagi "MANDI" yg mereka analogkan dengan predikat kotor.


DR. 'aidh abdullah Al-qarny mengomentari pandangan orang nasrani dengan statemen;

"Mereka adalah kumpulan tanpa penggembala,penumpang tanpa pemandu,perahu tanpa nakhoda,kegelapan yg bertumpuk tumpuk,karena mereka telah tersesat dari iman,cinta dan ambisi"

jika anda seorang wanita muslim,berbanggalah,karena syariat yg demikian inilah yg mengantarkan anda pada restu ilaahi,bersyukurlah juga karena menstruasi yg anda alami adalah satu dari ribuan keistimewaan yg dihadiahkan kepada anda.


Bukanlah sesuatu yg mudah dan gampang untuk mengatur siklus yg begitu rumit dgn keseimbangan hormon dan anatomis yg terjadi kala haid berlangsung.Sentuhan ke ajaiban ini adalah haq kebesaran sang pencipta.

Allah mengatur keadaan ini dgn amat rinci dan sempurna.Secara rasional,memang pada dasarnya adalah sama ketika anda berdarah di lengan dan dirahim (menstruasi).Mungkin atas dasar inilah yg membuat orang barat tak habis pikir kenapa wanita muslim harus MANDI BESAR setelah menstruasi dan tidak harus mandi jika berdarah ditempat yg lain..

Mari kita telaah lebih ilmiah..

"HAID WANITA (MUSLIMAH) ADALAH SALAH SATU BUKTI KEBESARAN TUHAN"

rahim yg anda miliki merupakan satu organ yg terkokoh yg diciptakan Allah. Dengan ukuran hanya sebesar telur ayam yaitu sekitar 2-3cm yg pd saat hamil bisa membesar volumenya hingga 5000cm atau sekitar 2500 kali lipat.Otot-otot nya yg terdiri dari 3 lapis dan tulang tulang yg melindunginya begitu kuat sehingga membuat organ ini betul-betul kokoh.

Dibagian atas rahim di ikat dgn 2 saluran yg menghubungkan indung telur dan menghasilkan sel telur dari sisi kiri dan kanan.Melalui saluran inilah sel telur turun dan dilepaskan menuju rahim.

Pada wanita sehat masa subur,terjadi pelepasan sel telur yg telah matang setiap bulan nya.Proses ini disebut dgn ovulasi.Hal ini bukan hal yg wajar,tetapi ini adalah sebuah kebijaksanaan pada level ilahiyyah. Kebijaksanaan ini memungkinkan manusia bisa berkembang biak dan selamat dari seleksi alam.Binatang mamalia terdahulu yg memiliki siklus menstruasi tahunan ternyata tak mampu bertahan dalam seleksi alam dan mengalami kepunahan.


Terlalu kecil dan sombong bagi kita mengatakan hukum alamlah yg mengatur,ketika manusia tak mampu menciptakan satu hormonpun,jelas ini bukanlah hal yg biasa 2 saja.

Sebelum sel telur dihasilkan,terjadi keseimbangan hormon dalam tubuh. HIPOTHALAMUS (bagian dari otak) mengeluarkan hormon GnRH yg kemudian memacu Hipofisis memproduksi hormon FSH dan LH. Hipofisis adalah pusat pengaturan seluruh kelenjar tubuh dalam otak yg ukuran nya sebesar biji kacang. FSH segera memacu calon sel telur menjadi telur yg matang,menghasilkan Estrogen dan membuat dinding rahim menebal,kaya dgn saluran pembuluh darah baru.


Keadaan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan penanaman calon bayi dlm kandungan.Sementara itu lonjakan hormon LH dalam darah membuat sel telur dilepas ke saluran indung telur sekaligus mengakhiri proses ovulasi.

Sel telur yg sudah dikepas siap menunggu sel sperma untuk dibuahi,jika dalam waktu (1 X 24 Jam) tidak ada sel sperma yg membuahi maka sel ini akan segera dibuang kedalam rahim.Bersamaan dgn itu hormon LH memacu pengeluaran Progesteron yg membuat dinding rahim menjadi lunak.Perlunakan ini membuat pembuluh2 darah baru mengalami penyempitan dan akhirnya menjadi jaringan mati.

Dalam waktu 14 hari setelah kegagalan pembuahan,jaringan yg mati dikeluarkan dari rahim.Proses ini kita kenal dgn menstuasi. Semua pembuluh darah yg rusak,jaringan yg mati,dan lapisan terdalam rahim dibersihkan sehingga rahim menjadi tipis seperti sedia kala.Namun,jika sel telur berhasil dibuahi spermamaka akan terbentuk hormon hCG yg mempertahankan ketebalan rahim untuk menampung dan menyediakan lingkungan yg cocok untuk calon bayi. Hormon ini yg menjadi penentu kehamilan dan biasa dites melalui test urine. Bayangkan jika satu saja hormon yg terkatit tersebut kacau atau jumlahnya tidak sesuai maka menstruasi mustahil dapat terjadi.

Semua ini adalah bentuk dari keajaiban dan tak ada yg tidak mungkin bagi Allah Azza Wa Jalla.

Sudah saatnya bagi anda kaum muslimah menyadari rahasia dalam haid anda. Syar'i agama anda telah menempatkan derajat anda jauh diatas wanita wanita non muslim yg penuh dengan kemaksiatan,kenistaan dan senantiasa tenggelam dlm dosa.


Kemuliaan mereka tertumpah,kehormatan rumah tangganya hancur dan sendi2 moral terkoyak.

Diceritakan nabi zakaria a.s berusia 120 thn dan istrinya, Elizabeth yg sudah mencapai menopause yg berusia 99 thn ketika ia mendambakan seorang putra. Namun mukjizat allah turun Elizabeth mengalami haid lagi dan kemudian mengandung nabi yahya a.s.

Yg selama ini mungkin anda anggap sebagai sesuatu yg kotor,hina dan najis ternyata menyimpan sejuta kenikmatan,

Maha besar ALLAH yg telah menganugrahkan kepada anda anda (muslimah) mukjizat yg terselip dalam sesuatu yg hina..
teologi Asy'ariyah

teologi Asy'ariyah






sebuah pendekatan logis Dalam memahami Eksistensi Ketuhanan



Mengenal tuhan merupakan kewajiban setiap hamba. Mengenal Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dari metode yang paling simple hingga memerlukan dialog panjang. Orang bijak mengatakan,"Barang siapa mengenal dirinya,maka dia mengenal tuhannya" [1]. Ungkapan yang muncul dari kalangan sufi cukup bergaung luas,bahkan banyak kalangan mengira bahwa itu adalah hadits Nabi SAW.

Dengan alam semesta yang diciptakan-Nya,pada dasarnya Tuhan (Allah SWT) telah " memperkenalkan diri" kepada hamba-Nya. Dengan nama-nama-Nya yang indah (al-Asma' al-Husna) yang diajarkan melalui kitab suci-Nya,Tuhan memperkenalkan diri untuk dipahami dan "didekati".Nama-nama tersebut merupakan kerakter-karakter yang sudah demikian dekat dalam perspektif kemanusiaan. Bahkan dibumi yang kita huni dan pada diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang nyata. Allah SWT berfirman.



وفي الأرض أيات للموقنين * وفي أنفسكم أفلا تبصرون




"Dan dibumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin,dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan! " Qs al-Dzriaat [51]: 20-21.

Siapa yang mengatur pergantian siang dan malam! Siapa yang menciptakan makhluk dan segala spesies yang ada dibumi ini? Siapa yang menetapkan ekosistem yang Kita saksikan di atas sana? Siapa yang menciptakan keteraturan dalam sistem anatomi tubuh kita? Siapa yang membentangkan negeri-negeri yang kita tempati? Siapa yang menghamparkan luasnya samudera? Siapa yang membuat hukum gravitasi yang kita alami ini, kalau bukan Allah SWT,Tuhan alam semesta raya.

Pelbagai cara dilakukan orang untuk mengenal Allah SWT. Pendekatan-pendekatan dilakukan dari pelbagai aspek yang demikian beragam. Mulai dari pendekatan dengan penekanan pada "rasa" dalam hati yang kemudian melahirkan disiplin ilmu tasawuf, hingga pendekatan rasional akal dan filsafat yang kemudian melahirkan disiplin ilmu kalam (teologi). Untuk mebhats ini,kita sedikit menyelam seputar ilmu kalam (teologi).

Sepeninggal Nabi SAW dan para sahabat,agaknya generasi umat Islam terus mengalami dinamika dan perkembangan pemikiran yang terus " ber-evolusi ". Pendekatan-pendekatan pada ayat-ayat suci al-Alqur'an,khususnya yang menyangkut persoalan ketuhanan (ayat-ayat fadhilah) menjadi kian beragam dan varian. Tidak jarang dari upaya-upaya pendekatan tersebut berbuntut konflik pemikiran yang berujung konflik horizontal yang mengerikan dan berdarah-darah.


Adalah Abul-Hasan al-Asy'ari,sosok pelopor gerakan pemikiran moderat dalam teologi Islam mencoba mengusung sebuah konsep ketuhan ('aqidah) dengan menawarkan argumen-argumen rasional yang tidak jauh dari konsep al-Qur'an dan as-sunnah. Gerakan pemikiran ini kemudian lebih identik dengan sebutan Ahlussunnah wal-jama'ah. Dalam mengupas persoalan ketuhanan, al-Asy'ari cukup "berani" berkonfrontasi dengan para seniornya yang rata-rata beraliran Mu'tazilah yg relatif rasionalis itu.

Dengan melakukan pendekatan dan pengatan terhadap ayat-ayat fadhilah dalam al-Qur'an maupun hadits-hadits shaheh,al-Asy'ari mencoba dengan pendekatan lewat konsep "al-Aqa'id al-Khamsin" (aqa'id 50) yang merangkum dan menjelaskan sifat-sifat Allah SWT dan para utusan-Nya. Al-Asy'ari membuat tiga kategori dalam merumuskan sifat-sifat Allah maupun para utusan-Nya. Yakni sifat wajib (niscaya), sifat mustahil dan sifat jaiz (prerogatif). Dengan suguhan argumentasi logis dan dialogis yang diramu dengan dalil-dalil dalam al-Qur'an maupun hadits, Al-Asy'ari mencoba "mendevinisi" Tuhan dengan komprehensif agar lebih "dekat" dengan pemikiran kita,dengan harapan pemahaman kita tidak jauh berbeda dengan gagasan dan perspektif yang dibangun oleh junjungan Rasulullah SAW.

Al-Asy'ari membuat devinisi ringkas tentang Tuhan dengan mengatakan bahwa yang dinamakan Tuhan adalah Zat yang tidak pernah membutuhkan atau bergantung kepada yang lain dan senantiasa dibutuhkan oleh yang lain. Untuk itu, maka Tuhan itu haruslah: Maha Ada (Wujud), Tiada Bermula (Qidam), Tiada Berakhir (Baqa'), berbeda esensi maupun eksistensinya dengan makhluk atau alam semesta (Mukhalafat lil-hawadits), Independen (Qiyam bi-nafsihi), Maha Esa (Wahdaniyat), Maha Berkuasa (Qudrat), Maha Karsa (Iradat), Maha Mengetahui (Ilm), Maha Hidup (Hayat), Maha Mendengar (Sama'), Maha Melihat (Bashar) dan Berfirman (Kalam).

Masing-masing eksistensi (Sifat) tersebut merupakan suatu keniscayaan bagi tuhan. Namun meski demikian tidak berarti al-Asy'ari mendevinisikan Tuhan dengan adanya Organ atau panca indra pada "Diri" Tuhan atau gambaran lain yang identik dengan esensi atau eksistensi makhluk hidup. Al-Asy'ari tidak berarti memberikan batasan dengan jumlah sifat tersebut,tapi lebih merupakan upaya penawaran pendekatan dan pemahaman yang solutif,mudah dicerna dan logis.

Dengan sifat-sifat tersebut,maka Tuhan mustahil mengalami kondisi ketiadaan atau sirna,atau bermula,berakhir,merupakan unsur semacam makhluk atau alam semesta,tidak independen, tediri atas beberapa unsur atau lebih dari satu atau memiliki padanan, tidak berkemampuan, tidak berkehendak sendiri, tidak mengetahui, tidak hidup, tidak mendengar, tidak melihat atau tidak berfirman. Secara garis besar bahwa segala macam bentuk kekurangan atau ketidak sempurnaan adalah hal yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan adalah Zat Maha Sempurna yang bahkan tidak memerlukan ruang dan waktu. Bahkan keduanya merupakan eksistensi semesta yang juga merupakan hasil kreasi-Nya.

Untuk sifat prerogatif (Jaiz) Tuhan, al-Asy'ari membuat kesimpulan bahwa Tuhan itu bisa saja berbuat segala sesuatu yang mungkin,termasuk menciptakan atau meniadakan apapun dan Tuhan Maha semau-maunya. Keadaan positif maupun negatif, adanya kebaikan dan keburukan, iman dan kufur, taat dan fasik, petunjuk dan kesesatan, adanya surga dan neraka, pahala dan siksa, tatanan dan kerusakan, keteraturan dan acakan, semuanya merupakan implikasi dari sifat prerogatif Tuhan.

Sifat-sifat yang dirumuskan oleh al-Asy'ari merupakan "intisari" dari al-Asma' al-Husna serta katakerja-katakerja yang bersubyek Tuhan (Allah SWT) yang ada dalam al-Qur'an. Al-Asy'ari merumuskannya dengan; 13 plus 7 sifat Wajib, 13 plus 7 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz. Ini merupakan metode bijak yang ditawarkannya agar "Devinisi" Tuhan lebih dekat dengan rasionalis kita dan tidak keluar dari koridor al-Qur'an dan hadits Nabi SAW, sehingga kita benar-benar bisa menjadi Ahlut-tauhid (monoteis).

Untuk para utusan Allah, al-Asy'ari merumuskan,bahwa sifat (karakter) para rasul (utusan) Allah yang wajib (niscaya) ada empat,yaitu; shidq (jujur dalam ucapan maupun tindakan), amanat (komitmen dan keselarasan antara ucapan dan perbuatan), tabligh (menyampaikan informasi-informasi) kerasulannya,aktif dakwah dan komunikatif) dan fathanah (cerdik-cendikia dan menguasai argumentasi dalam dialog dengan para obyek dakwah atau umatnya). Dengan demikian,maka masing-masing kebalikan dari empat sifat pokok tadi adalah mustahil terjadi pada mereka. Yakni; berdusta, berkhianat, tidak menyampaikan informasi risalahnya dan pandir.

Sedangkan sifat jaiz mereka adalah segala bentuk, keadaan, kondisi, karakter, perilaku menusiawi yang tidak sampai berdampak aib atau mengurangi derajat kenabian atau kerasulan mereka yang sangat tinggi dan mulia itu. Maka para rasul Allah bisa saja terkena musibah, penyakit, lupa, tubuh gemetar, menggigil dan terkejut, tetimpa rasa kantuk dan tidur, rasa lapar dan dahaga, rasa kenal dan susah. Mereka juga tidak terhindar dari rasa senang dan suka cita, melakukan pernikahan dan memiliki keturunan, keburutuhan akan makan dan minum serta sarana hidup lainnya, kebutuhan rasa aman dan sebagainya yang merupakan hal-hal lumrah yang terjadi pada manusia, sebab pada dasarnya mereka juga manusia biasa seperti halnya manusia lainnya. Artinya para Rasul Allah bukanlah dari unsur atau jenis Malaikat yang suci dari karakter-karakter manusiawi.

Namun para rasul tidak pernah terjebak pada kemaksiatan,baik yang berat ataupun yang "ringan", melakukan perbuatan manusiawi yang sia-sia,terkena penyakit-penyakit yang menyebabkan mereka dijauhi atau dihindari oranglain seperti; lepra, cacat fisik atau cacat mental dan penyakit ganas lainnya yang sulit disembuhkan. Para rasul juga tidak pernah terlena oleh gemerlap duniawi. Prinsipnya,segala hal yang merendahkan martabat mereka sebagai rasul-rasul Allah tidak terjadi kepada mereka. Dakwah memerlukan kewibawaan dan martabat, maka hal-hal manusiawi yang dapat merusak atau mengurangi martabat atau citra mereka tidak dialami atau terjadi pada para Rasul Allah itu.

Source; anshory huzaimi

Sudut kesufian Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi




Nama lengkap Sultan Salahuddin adalah Abu Mudzaffar Yusuf bin Pangeran Najamuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya`qub ad- Duwini at-Tikriti.

Lahir di kota Tikrit bahagian Iraq pada tahun 532 hijriyah, karena ketika itu ayahnya diangkat menjadi pejabat penguasa Tekrit.

Mendengarkan hadist dari al-Hafiz Abu Tohir as-Silafi, al-Faqih Ali bin Binti Abi Sa`ad, Abu Tohir bin `Auf, al-Quthb an-Naisaburi.

Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi " Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk berjihad dan menghancurkan musuh, tidak pernah terdengar seperti beliau selama ini". ( Siyar A`lam an-Nubala` : 15 / 454 ).

Berkata al-Hafizh Tajuddin as-Subki pada kejadian tahun 572 : " Kemudian beliau ( Salahuddin ) berangkat ke Iskandariyah dan selalu berbolak balik ke pengajian al-Hafizh as-Silafi untuk mendengarkan hadis, kemudian kembali pulang ke Mesir ( Kairo ) dan membangun kuburan Imam Syafi`i ( Tabaqat Syafi`iyah al-Kubra : 4 / 233 ).

Berkata al-Hafiz Ibnu Katsir : "Sesungguhnya beliau ( Salahuddin ) tidak meninggalkan harta dan barang yang banyak karena banyaknya pemberian, sadaqah, dan kebaikkannya kepada pegawainya, menteri- menteri, gubernur-gubernur sehingga kepada musuhnya juga, sebagaimana yang telah lewat telah cukup di sebutkan, beliau berpakaian yang murahan, memakan makan makanan yang murah harganya, meminum minuman yang murah harganya, menaiki tunggangan yang murahan juga, beliau hanya memakai pakaian yang terbuat dari kapas, katun, dan wool. ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 /5 ).

Penulis asli (Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : Ini bukti kehidupan Salahuddin yang di hiasi dengan kezuhudan dan kesederhanaan, wujudnya nilai-nilai kesufian di jiwa Salahuddin, walaupun beliau memiliki dan menguasai negeri yang luas tetapi beliau tetap tidak terpengaruh dengan kekayaan dunia, beliau tidak pernah bermegah-megah dengan pakaian, makanan, dan minuman. Hal ini tidak dapat di ungkirkan betapa besarnya pengaruh tasawuf didalam diri beliau.


Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir : " Beliau tidak pernah melakukan perkara yang di benci , terlebih-lebih ketika Allah telah memberika nikmat kerajaan kepadanya, bahkan cita- citanya dan tujuannya yang paling besar adalah menolong agama islam dan menghancurkan para musuh islam yang jahat, dan beliau mengikuti pandangan dan pendapatnya juga pendapat orang-orang yang beliau percayai siang dan malamnya, ini kelebihan dan keistimewaannya. ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 /5 ).

Penulis asli (Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : Beginilah gambaran kehidupan dan ketakwaan beliau, ini semua pengaruh besar ulama-ulama sufi yang hidup beserta beliau, tidak seperti raja-raja wahabi yang sibuk memperkaya diri dan tidak memikirkan nasib umat islam di Palestina, hidup dengan tumpukan harta, ketawa terbahak-bahak, menari-nari dengan musuh islam amerika (presiden saat itu: George Bush), berteman dengan Yahudi dan musuh-musuh islam.


Berkata al-Hafiz Ibnu Katsir : " Beliau ( Salahuddin al-Ayyubi ) senantiasa menjaga shalat fardhu yang lima pada awal waktunya dengan berjama`ah, menurut cerita beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjama`ah sebelum wafatnaya dengan masa yang lama, sehingga ketika waktu sakit yang membawanya menemui ajal, ketika itu Imam datang kepadanya dan shalatlah beliau bersamanya dalam keadaan berdiri walaupun tubuh beliau begitu lemah".( Bidayah wa an- Nihayah : 7 /5 ).


Penulis ( Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : " Ini adalah semangat orang-orang sufi dalam beribadah kepada Allah walaupun dalam keadaan sakit keras ".


Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir : " al-Quthub an-Naisaburi telah mengumpulkan permasalahan Aqidah yang kemudian di hafal oleh Salahuddin dan di hapal oleh anak- anaknya yang telah berakal, beliau sangat suka sekali mendengarkan al-Qur`an, al- Hadis dan ilmu, beliau selalu menghadiri majlis pembacaan hadis ". ( Bidayah Wa an-Nihayah : 7 / 5 ).


Penulis asli (Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : " Syeikh al-Quthub an-Naisaburi adalah seorang sufi yang beraqidahkan Asya`irah, beliau merupakan guru Salahuddin al-Ayyubi didalam ilmu Aqidah dan Tasawuf, sebab itulah aqidah Salahuddin adalah Asya`irah dan berpegang teguh dengan tasawuf".


Berkata al-Hafizh Ibnu Atsir : " Adapun ketawadhukan Salahuddin sangat jelas sekali, beliau tidak pernah berlaku sombong terhadap teman-temannya, beliau sangat mencela raja- raja yang takabbur,orang-orang faqir dan sufi senantiasa hadir ke majlisnya, dan beliau membuat acara mendengarkan musik sufi, apabila berdiri salah seorang sufi ingin menari kesufian maka beliaupun berdiri sampai selesai tarian sang sufi tersebut, beliau tidak pernah melaksanakan hal-hal yang di ingkari oleh syari`at islam, beliau memiliki ilmu, makrifah, mendengarkan hadis dan membacanya kepada orang lain, sangat jarang sekali seperti beliau pada masanya, memiliki banyak kebaikkan, amal yang bagus, jihad yang sangat besar terhadap orang-orang kafir, penaklukkannya terhadap negeri-negeri yang telah dikuasai orang kafir menunjukan besarnya jihad beliau.( al-Kamil Fi at-Tarikh : 10 / 230 ).


Penulis asli (Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : Dari ungkapan al-Hafiz Ibnu Atsir ( seorang ulama besar yang hidup semasa dengan Sulton Salahuddin al-Ayyubi ) sangat jelas sekali betapa mulyanya orang-orang sufi di pandangan Sultan yang adil dan baik, hal ini juga membuktikan betapa besar pengaruh tasawuf didalam kehidupan Salahuddin al- Ayyubi.

Berkata al-Hafizh Ibnu Atsir : " Adapun Salahuddin kembali pulang ke Halab pada tanggal tiga Sya`ban, setelah beliau memasuki kota Halab, kemudian beliau berjalan menuju kota Damsyiq, setelah itu beliau meninggakan tentera bahagian timur seperti Imaduddin Zanki ibn Maudud pemilik Sanjar dan al- Khabur, tentera al-Maosul dan lain-lainnya, seterusnya beliau berjalan dari Halab ke Damsyik dengan mengambil jalan menuju kuburan Umar bin Abdul Aziz dan menziarahinya, setelah itu beliau menziarahi Syeikh Abu Zakaria al-Maghribi seorang hamba Allah yang soleh yang memiliki banyak karamat yang nyata, dan ikut juga beserta Salahuddin Pangeran `Izzuddin Abu Falitah Qasim bin al-Muhanna al-Alawi al-Huseini, beliau adlah seorang gubernur kota Madinah Nabi Muhammad s.a.w., beliau mengikuti Salahuddin didalam peperangan dan penaklukan, Sultan Salahuddin selalu bertabaruk dengan melihatnya ( Pangeran Izzuddin ) dab berharap kebaikan dengan bersahabat dengannya, beliau ( Salahuddin ) sangat menghormatinya dan sangat senang dengannya, dan selalu mendengarkan kata- katanya". ( al-Kamil Fi at-Tarikh : 10 / 162 ).


Penulis asli (Syaikh Muhammad Husni Ginting ) : " Dari ungkapan al-Hafiz Ibnu Atsir menjadi lebih jelas lagi bagaimana sudut kesufian Salahuddin al-Ayyubi dengan menziarahi kuburan Khalifah yang adil Umar bin Abdul Aziz, perbutan ini hanya dilakukan oleh orang- orang sufi saja, sebab menurut golongan Wahabi dan nenek moyang mereka tidak boleh menziarahi kuburan dengan menempuh jarak yang jauh, bagi mereka menziarahi seorang wali seperti Umar bin Abdul Aziz adalah perbuatan syirik yang wajib di basmi.

Kemudian Salahuddin bukan hanya menziarahi Umar bin Abdul Aziz bahkan beliau juga menziarahi seorang sufi terkenal dengan kesolehan dan karomahnya beliau mengambil barokah dari wali tersebut.

Bukan hanya sampai disitu bahkan beliau mengambil tabaruk dengan melihat Pangeran Izzudin yang merupakan orang yang soleh keturunan dari Sayyidina Husein cucu Rasulullah s.a.w., golongan wahabi sangat mengharamkan tabaruk kepada orang-orang yang bukan nabi, perbuatan Salahuddin ini merupakan perbuatan orang-orang sufi yang memperbolehkan tabaruk dengan orang-orang soleh.


Dari kajian yang singkat ini menunjukkan bahwa Salahuddin seorang sufi yang handal tampil didalam medan jihad, setelah nyata kesufian Salahuddin al-Ayyubi golongan wahabi akan mengatakan bahwa Salahuddin seorang manusia biasa yang bisa saja tersalah didalam berbagai macam masalah termasuk sudut kesufiannya.


Tapi nampaknya golongan wahabi telah mengingkari ijmaknya ulama dan para sejarawan tentang kebaikkan dan kebagusan pribadi Salahuddin al-Ayyubi, apakah orang seperti beliau yang telah meninggikan agama islam memiliki kesalahan didalam i`tiqad dan pegangan, dengan begitu golongan wahabi sangat terasing sekali dari umat islam dan ulamanya, sebab umat islam dan ulamanya dari dahulu sampai sekarang masih lagi memuji- muji Salahuddin sementra golongan wahabi menghina Salahuddin al-Ayyubi karena kesufiannya, adakah pahlawan wahabi seperti Salahuddin al-Ayyubi, yang banyak adalah pahlawan wahabi yang membunuh umat islam dengan bom-bom mereka, sampai kapankah mereka mau sadar bahwa pikiran mereka sangat terasing dari pikiran islam dan syariatnya, jawabannya tentu golongan wahabi tetap pada pegangannya karena menurut mereka apa yang mereka pegang adalah yang paling benar dan selainnya adalah salah dan sesat, kalau begitu bagi merekalah surga semuanya sebab mereka yang paling benarnya.......tapi tunggu dulu kita lihat saja di akhirat nanti siapa yang masuk surga siapa pula yang ke neraka.


Sumber rujukkan :

1 - al-Bidayah Wa an-Nihayah, karangan al- Hafizh Ibnu Katsir, terbitan Dar Hadis, Cairo.

2 - Siyar I`lam an-Nubala` , karangan al- Hafizh adz-Dzahabi, terbitan al-Maktabah at- Taufiqiyah , Cairo.

3 - Tabaqot Syafi`iyyah al-Kubra, karangan al- Hafizh Tajuddin as-Subki, terbitan Dar al- Kutub al-Ilmiyyah Bairut Lubnan.

4 - al-Kamil Fi at-Tarikh, karangan al-Hafizh Ibnu Atsir , terbitan al-Maktabah at- Taufiqiyah , Cairo


Source: Syaikh muhammad husni ginting al-langkati
Daftar Isi

Daftar Isi